Selasa, 13 September 2011

MANAJEMEN “INPUT-PROSES-OUTPUT DAN OUTCOME” DALAM MENGELOLA PENDIDIKAN PERSEKOLAHAN

MANAJEMEN “INPUT-PROSES-OUTPUT DAN OUTCOME”
DALAM MENGELOLA PENDIDIKAN PERSEKOLAHAN

Oleh Hamzah LPMP NTT


PENDAHULUAN
Mekanisme kehidupan yang mutlak adanya keinginan yang didorong oleh kebutuhan (sebab) dan upaya yang diperlukan untuk mencapai keinginan (akibat); Ada tujuan pendidikan yang ingin dicapai (sebab) dan upaya yang diperlukan untuk mencapainya (akibat); Upaya-upaya tersebut ditempuh secara sistem (utuh dan benar), dengan catatan utuh dan benar menurut Hukum-Hukum KetetapanNya

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL
Mengembangkan kualitas dasar antara lain (daya pikir, daya qalbu, dan daya pisik)
Mengembangkan kualitas instrumental yakni penguasaan ilmu pengetahuan (mono-disiplin, multi-disiplin, antar-disiplin, dan lintas-disiplin), baik ilmu pengetahuan lunak maupun keras dan terapannya yaitu teknologi serta seni, Membangun jati diri bangsa Indonesia, Menjaga kelangsungan hidup dan perkembangan dunia, Kualitas Manusia, Kualitas Dasar, Kualitas Instrumental, daya pikir, daya qalbu, daya pisik, Kualitas ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

UPAYA YANG HARUS DITEMPUH UNTUK MENCAPAI TUJUAN PENDIDIKAN
Upaya-upaya untuk mencapai tujuan pendidikan ditempuh melalui pendekatan “sistem” (“utuh dan benar”) Sekolah dapat dikategorikan seolah-olah sebagai “sistem” karena memenuhi kriteria sebagai sistem yaitu: (1) utuh dan benar, dan (2) ada tujuan yang ingin dicapai dan ada upaya-upaya untuk mencapainya

SEKOLAH SEBAGAI SISTEM
Secara visual, sekolah sebagai sistem dapat digambarkan, Jika kita ingin menganalisis, kita mulai dari outcome, output, proses, input, dan berakhir pada konteks. Sebaiknya, jika kita ingin melakukan langkah pemecahan persoalan atau menyiapkan, maka arahnya terbalik, yaitu dimulai dari konteks, input, proses, output, dan berakhir pada outcome (cara berpikir sistem yang runtut), Kualitas dan Inovasi, Efektifitas, Produktifitas, Efisiensi Internal, Efisiensi Eksternal.

Konteks Pendidikan
Berkaitan dengan meningkatnya persaingan dalam bidang pendidikan, terjadi pula perubahan pada perilaku konsumen, dalam hal ini yang dimaksud adalah masyarakat (orangtua dan siswa), maupun dunia usaha. Karena banyaknya pilihan, konsumen kini menjadi semakin banyak tuntutan, baik mengenai kualitas lulusan dan biaya pendidikan maupun fasilitas pendidikan. Bargaining power masyarakat meningkat sedemikian rupa sehingga industri atau dunia pendidikan terpaksa harus melayaninya kalau tidak mau akan tersingkir dari kancah persaingan yang makin berat.
Dalam situasi lingkungan yang penuh dengan dinamika ini, manajemen pendidikan harus dapat menciptakan organisasi yang mampu memberikan pelayanan yang memuaskan kepada dan masyarakat pada umumnya dan objek pendidikan (Siswa dan orangtua) khususnya. Saat yang bersamaan dapat pula bersaing secara efektif dalam konteks lokal, nasional bahkan dalam konteks global. Dengan kata lain dunia pendidikan kini dituntut untuk mengembangkan manajemen strategi dan operasi yang pada dasarnya banyak diterapkan dalam dunia usaha, sebagai langkah antisipatif terhadap kecenderungan baru guna mencapai dan mempertahankan posisi bersaingnya, sehingga nantinya dapat menghasilkan manusia yang memiliki sumber daya manusia berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan zaman, maka konteksnya harus sesuai dengan tuntutan pengembangan diri dan peluang tamatan, dukungan pemerintah dan masyarakat, landasan hukum, tanggap terhadap kemajuan IPTEKS, kebijakan, nilai dan harapan masyarakat, otonomi pendidikan, dan tuntutan globalisasi. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu mencakup Input, Proses, Output dan Outcome.
Input Pendidikan
a. Memiliki Kebijakan, Tujuan dan Sasaran Mutu yang jelas
Secara formal, sekolah menyatakan dengan jelas tentang keseluruhan kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu. Kebijakan, tujuan, dan sasaran mutu dinyatakan oleh kepala sekolah dan disosialisasikan kepada semua warga sekolah, sehingga tertanam pemikiran, tindakan, kebiasaan, hingga sampai pada kepemilikan karakter mutu oleh warga sekolah.
b. Sumberdaya Tersedia dan Siap
Sumberdaya merupakan input penting yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan di sekolah. Tanpa sumberdaya yang memadai, proses pendidikan di sekolah tidak berlangsung secara memadai, dan pada gilirannya sasaran sekolah tidak akan tercapai. Sumberdaya dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (uang peralatan, perlengkapan, bahan) sumberdaya selebihnya tidak mempunyai arti apapun bagi perwujudan sasaran sekolah, tanpa campur tangan sumberdaya manusia. Secara umum, sekolah harus memiliki tingkat kesiapan sumberdaya yang memadai untuk menjalankan proses pendidikan. Artinya, segala sumberdaya yang diperlukan untuk menjalankan proses pendidikan harus tersedia dan dalam keadaan siap. Hal ini bukan berarti bahwa sumberdaya yang ada harus mahal, akan tetapi sekolah yang bersangkutan dapat memanfaatkan keberadaan sumberdaya yang ada dilingkungan sekolahnya. Karena itu, diperlukan kepala sekolah yang mampu memobilisasi sumberdaya yang ada disekitarnya.
c. Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi
Staf merupakan jiwa sekolah. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki staf yang mampu (kompoten) dan berdedikasi tinggi terhadap sekolahnya. Implikasinya jelas, yaitu, bagi sekolah yang ingin efektifitasnya tinggi, maka kepemilikan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi merupakan keharusan.
d. Memiliki Harapan Prestasi yang tinggi
Sekolah yang mempunyai dorongan dan harapan yang tinggi untuk meningkatkan prestasi peserta didik dan sekolahnya. Kepala sekolah memiliki komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatkan mutu sekolah secara optimal. Guru memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa anak didiknya dapat mencapai tingkat yang maksimal, walaupun dengan segala keterbatasan sumberdaya pendidikan yang ada disekolah. Sedang peserta didik juga mempunyai motivasi untuk selalu meningkatkan diri untuk berprestasi sesuai dengan bakat dan kemampuaannya. Harapan tinggi dari ketiga unsur sekolah ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sekolah selalu dinamis untuk selalu menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya.
e. Fokus pada Pelanggan (khususnya Siswa)
Pelanggan, terutama siswa, harus merupakan fokus dari semua kegiatan sekolah. Artinya, semua input dan proses yang dikerahkan di sekolah tertuju utamanya untuk meningkatkan mutu dan kepuasan peserta didik. Konsekuensi logis dari ini semua adalah bahwa penyiapan input dan proses belajar mengajar harus benar-benar mewujudkan sosok utuh mutu dan kepuasan yang diharapkan dari siswa.
f. Input manajement
Sekolah yang memiliki input manajemen yang memadai untuk menjalankan roda sekolah. Kepala sekolah dalam mengatur dan mengurus sekolahnya menggunakan sejumlah input manajemen. Kelengkapan dan kejelasan input manajemen akan membantu kepala sekolah mengelola sekolanya dengan efektif. Input manajemen yang dimaksud meliputi; tugas yang jelas, rencana yang rinci dan sitematis, program yang mendukung bagi pelaksanaan rencana, ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas sebagai panutan bagi warga sekolahnya untuk bertindak, dan adanya sistem pengendalian mutu yang efektif dan efisien untuk meyakinkan agar sasaran yang telah disepakati dapat dicapai. Dapat di simpulkan bahwa Input Pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi berlangsungnya proses, misalnya ketenagaan, kurikulum, peserta didik, biaya, organisasi, administrasi, peranserta masyarakat, kultur sekolah dan sub komponen, regulasi, sarana dan prasarana.

Proses Pendidikan
Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses antara lain :
a. Proses Belajar Mengajar yang Efektivitasnya Tinggi
Sekolah yang memiliki efektivitas proses belajar mengajar yang tinggi. Ini ditujukkan oleh sifat proses belajar mengajar yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik, proses belajar mengajar bukan sekadar memorisasi dan recall, penekanan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang diajarkan (logis), akan tetapi lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati (ethos) serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik (pathos). Proses belajar mengajar yang efektif juga lebih menekankan pada belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learnig to be)
b. Kepemimpinan Sekolah yang Kuat
Kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumberdaya pendidikan yang tersdia. Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolahnya melalui program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan manajemen dan kepemimipinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Secara umum, kepala sekolah tangguh memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya sekolah, terutama sumberdaya manusia, untuk mencapai tujuan sekolah.

c. Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib
Sekolah memiliki lingkungan (iklim) belajar yang aman, tertib, dan nyaman sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman (enjoyable learning). Karena itu, sekolah yang efektif selalu menciptakan iklim sekolah yang aman, nyaman tertib melalui (pengupayaan faktor-faktor yang dapat menumbuhkan iklim sekolah. Dalam hal ini, peranan kepala sekolah sangat penting sekali.
d. Pegelolaan Tenaga Kependidikan yang efektif
Tenaga kependidikan, terutama guru, merupakan jiwa dari sekolah. Sekolah hanyalah merupakan wadah. Sekolah yang menyadari tentang hal ini. Pengelolaan tenaga kependidikan, mulai dari kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja, hingga sampai pada imbal jasa, merupakan garapan penting bagi seorang kepala sekolah. Terlebih pada pengembangan tenaga kependidikan, Hal ini harus dilakukan secara terus-menerus mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesat. Pendeknya tenaga kependidikan yang diperlukan memiliki komitmen tinggi, selalu mampu dan sanggup menjalankan tugasnya dengan baik.
e. Sekolah memiliki Budaya Mutu
Budaya mutu tertanam di sanubari semua warga sekolah, sehingga setiap perilaku selalu didasari oleh profesionalisme. Budaya mutu memiliki elemen-elemen antara lain; (a) informasi kualitas harus digunakan untuk perbaikan, bukan untuk mengadili/mengontrol orang; (b) kewenangan harus sebatas tanggung jawab; (c) hasil harus diikuti penghargaan (rewards) atau sanksi (punishment); (d) kolaborasi dan sinergi, bukan kompetisi, harus merupakan basis untuk kerjsama; (e) warga sekolah merasa aman terhadap pekerjaannya; (f) atmosfir keadilan (fairness) harus ditanamkan; (g) imbal jasa harus sepadan dengan nilai pekerjaan; dan (h) warga sekolah merasa memiliki sekolah.
f. Sekolah memiliki Teamwork yang kompak, Cerdas, dan Dinamis
Kebersaman (teamwork) merupakan karateristik yang dituntut, karena output pendidikan merupakan hasil kolektif warga sekolah, bukan hasil individual. Karena itu budaya kerjasama antar fungsi dalam sekolah, antar individu dalam sekolah, harus merupakan kebiasaan hidup sehari-hari warga sekolah.
g. Sekolah memiliki Kewenangan (kemandirian)
Sekolah memiliki kewenangan untuk melakukan yang terbaik bagi sekolahnya, sehingga dituntut untuk memiliki kemampuan dan kesanggupan kerja yang tidak selalu menggantungkan pada atasan. Untuk menjadi mandiri, sekolah harus memiliki sumberdaya yang cukup untuk menjalankan tugasnya.
h. Partisipasi yang Tinggi dari Warga dan Masyarakat
Sekolah yang memiliki karakteristik bahwa partisipasi warga sekolah dan masyarakat merupakan bagian kehidupannya. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa makin tinggi tingkat prestasi, makin besar rasa memiliki; makin besar rasa-memiliki, makin besar pula rasa tanggung jawab; dan makin besar rasa tanggung jawab, makin besar pula tingkat dedikasinya. Untuk itu kepala sekolah tidak berjalan sendiri.
i. Sekolah memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen
Keterbukaan/transparansi dalam pengelolan sekolah merupakan karakteristik sekolah yang ditunjukan dalam pengambilan keputusan, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, penggunaan uang, dan sebagai alat kontrol.
j. Sekolah memiliki Kemauan untuk Berubah (psikologis dan pisik)
Perubahan harus merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi semua warga sekolah. Sebaliknya, kemapanan merupakan musuh sekolah. Tentu saja yang dimaksud perubahan adalah peningkatan, baik bersifat fisik maupun psikologis. Artinya, setiap dilakukan perubahan, hasilnya diharapkan lebih baik dari sebelumnya (ada peningkatan) terutama mutu peserta didik.
k. Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan.
Evaluasi belajar secara teratur bukan hanya ditujukan untuk mengetahui tingkat daya serap dan kemampuan peserta didik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan hasil evaluasi belajar, untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, fungsi evaluasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu peserta didik dan mutu sekolah secara keseluruhan dan secara terus-menerus merupakan kebiasan warga sekolah. Tiada hari tanpa perbaikan. Karena itu, sistem mutu yang baku sebagai acuan bagi perbaikan harus ada. Sistem mutu yang dimaksud harus mencakup struktur organisasi, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumberdaya untuk menerapkan manajemen mutu.
l. Sekolah Responsif dan antisipatif terhadap Kebutuhan
Sekolah selalu tanggap /responsif terhadap berbagai aspirasi yang muncul bagi peningkatan mutu. Karena itu, sekolah selalu membaca lingkungan dan menanggapinya secara cepat dan tepat. Bahkan, sekolah tidak hanya mampu menyesuaikan terhadap perubahan/ tuntutan, akan tetapi juga mampu mengantisipasi hal-hal yang mungkin bakal terjadi. Menjemput bola, adalah padanan kata yang tepat bagi istilah antisipatif.
m. Memiliki Komunikasi yang baik
Sekolah yang efektif umumnya memiliki komunikasi yang baik terutama antar warga sekolah, dan juga sekolah-masyarakat sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing warga sekolah dapat diketahui. Dengan cara ini, maka keterpaduan semua kegiatan sekolah dapat diupayakan untuk mencapai tujuan dan sasaran sekolah yang telah dipatok. Selain itu komunikasi yang baik juga akan membentuk teamwork yang kuat, kompak dan cerdas, sehingga berbagai kegiatan sekolah dapat dilakukan secara merata oleh warga sekolah.
n. Sekolah memiliki Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah bentuk pertanggung jawaban yang harus dilakukan sekolah terhadap keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Akuntabilitas ini berbentuk laporan prestasi yang dicapai dan dilaporkan kepada pemerintah, orang tua siswa, dan masyarakat. Berdasarkan laporan hasil program ini, pemerintah dapat menilai apakah program telah mencapai tujuan yang dikehendaki atau tidak. Jika berhasil, maka pemerintah perlu memberikan penghargaan kepada sekolah yang bersangkutan, sehingga menjadi faktor pendorong untuk terus meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang. Sebaliknya jika program tidak berhasil, maka pemerintah perlu memberikan teguran sebagai hukuman atas kinerjanya yang dianggap tidak memenuhi syarat. Demikian pula, para orang tua siswa dan anggota masyarakat dapat memberikan penilaian apakah program ini dapat meningkatkan prestasi anak-anaknya secara individual dan kinerja sekolah secara keseluruhan. Jika berhasil, maka orang tua peserta didik perlu memberikan semangat dan dorongan untuk peningkatan program yang akan datang. Jika kurang berhasil, maka orang tua siswa dan masyarakat berhak meminta pertanggungjawaban dan penjelasan sekolah atas kegagalan program yang telah dilakukan. Dengan cara ini, maka sekolah tidak akan main-main dalam melaksanakan program pada tahun-tahun mendatang.

o. Sekolah memiliki Kemampuan Manajemen Sustainabilitas
Sekolah yang efektif juga memiliki kemampuan untuk menjaga kelangsungan hidupnya (sustainabilitasnya) baik dalam program maupun pendanaannya. Sustainabilitas program dapat dilihat dari keberlanjutan program yang telah dirintis sebelumnya dan bahkan berkembang menjadi program-program baru yang belum pernah ada sebelumnya. Sustainabilitas pendanan dapat ditunjukan oleh kemampuan sekolah dalam mempertahankan besarnya dana yang dimiliki dan bahkan makin besar jumlahnya. Sekolah memiliki kemampuan menggali sumberdana dari masyarakat, dan tidak sepenuhnya menggantungkan subsidi dari pemerintah.

Proses Pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output. Dalam pendidikan (tingkat sekolah) proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tinggi dibandingkan dengan proses-proses yang lain.

Output Pendidikan
Output merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah, dapat dijelaskan bahwa output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khusunya prestasi belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam: (1) prestasi akademik, berupa nilai Ujian Semester, Ujian Nasional, karya ilmiah, lomba akademik, dan (2) prestasi non-akademik, seperti misalnya IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olah raga, kesnian, keterampilan, dan kegiatan ektsrakurikuler lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak tahapan kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.

Output Pendidikan sebagai sistem seharusnya menghasilkan output yang dapat dijamin kepastiannya. Output sekolah pada umumnya adalah merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efektifitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerja, dan moral kerjanya. Oleh karena demikian dapat disimpulkan bahwa output sekolah yang diharapkan adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah.

Pada umumnya, output dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi akademik (academic, achivement) dan ouput berupa prestasi non-akademik (non-academic achivement). Output prestasi akademi misanya, NEM, lomba karya ilmiah remaja, lomba mata pelajaran, cara-cara berfikir (kritis, kreatif/divergen, nalar, rasional, induktif, dedukatif, dan ilmiah). Output non-akademik, misalnya keingintahuan yang tinggi, harga diri kejujuran, kerjasama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama, solidaritas yang tinggi, toleransi, kedipsiplinan, kerajinan prestasi oleh raga, kesenian, dan kepramukaan.

Outcome Pendidikan
Hasil jangka panjang: dampak jangka panjang terhadap individu, sosial, sikap, kinerja, semangat, sistem, penghasilan, pengembangan karir, kesempatan pendidikan, kerja, pengembangan dari lulusan untuk berkembang, dan mutu pada umumnya. Manajemen sekolah berada pada seluruh komponen sekolah sebagai sistem, yaitu pada konteks, input, proses, output, outcome, dan dampak karena manajemen berurusan dengan sistem, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoordinasian hingga sampai pengontrolan/ pengevaluasian. Kepemimpinan berada pada komponen manusia, baik pendidik dan tenaga kependidikan, maupun pada peserta didik, karena kepemimpinan berurusan dengan banyak orang.

FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN
Perencanaan Pengorganisasian, Pelaksanaan Pengkoordinasian, Pengevaluasian/Pengontrolan urusan-urusan seekolah : Urusan kurikulum, Proses belajar mengajar, Tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, Kesiswaan, Sarana dan Prasarana, Regulasi sekolah, Keuangan dan akuntasi, Administrasi, Penilaian, Humas/Komite sekolah, Pengembangan kultur sekolah, dan urusan Kesekretariatan dan Kearsipan Matrik Manajemen Sekolah Fungsi Urusan Golongan Faktor untuk Setiap Urusan. Rencana pengembangan sekolah merupakan bagian integral manajemen sekolah, apa akibatnya, Jika sekolah tidak memiliki rencana, berarti penyelenggaraan sekolah mengandalkan pada kebetulan Rencana itu mahal, tetapi jika tidak memiliki rencana, akibatnya lebih mahal Jika salah merencanakan, berarti merencanakan kesalahan.

PENTINGNYA RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH
Rencana pengembangan sekolah penting dimiliki untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku sekolah dalam rangka menuju perubahan atau tujuan sekolah yang lebih baik (peningkatan, pengembangan) dengan resiko yang kecil dan untuk mengurangi ketidakpastian masa depan sekolah.

ARTI PERENCANAAN SEKOLAH
Perencanaan sekolah adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan sekolah yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia. Rencana pengembangan sekolah adalah dokumen tentang gambaran kegiatan sekolah di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan/ tujuan sekolah yang telah ditetapkan.

TUJUAN RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH
Rencana pengembangan sekolah disusun dengan tujuan untuk: (1) menjamin agar perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil; (2) mendukung koordinasi antar pelaku sekolah; (3) menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar pelaku sekolah, antarsekolah dan dinas pendidikan kabupaten/kota, dan antar waktu; (4) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; (5) mengoptimalkan partisipasi warga sekolah dan masyarakat; dan (6) menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.

SISTEM PERENCANAAN SEKOLAH
Sistem perencanaan sekolah adalah satu kesatuan tata cara perencanaan sekolah untuk meng-hasilkan rencana-rencana sekolah dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara sekolah dan masyarakat (diwakili oleh komite sekolah).

TUJUAN SISTEM PERENCANAAN SEKOLAH
Mendukung koordinasi antar pelaku pendidikan; Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antara sekolah dengan dinas pendidikan, dinas pendidikan propinsi, dan pusat Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; Mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

VISI-MISI SEKOLAH
Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan; Misi adalah rumusan umum mengenai tindakan (upaya-upaya) yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi; Tujuan (baku) adalah rumusan mengenai apa yang diinginkan pada kurun waktu tertentu; Sasaran/tujuan situasional adalah rumusan spesifik mengenai apa yang diinginkan pada kurun waktu tertentu dengan memperhitungkan tantangan nyata yang dihadapi (sasaran merupakan jabaran tujuan); Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi; Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan; Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah untuk mencapai tujuan.
RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH JANGKA PANJANG, MENENGAH DAN TAHUNAN
Rencana pengembangan sekolah Jangka Panjang adalah dokumen perencanaan sekolah untuk periode 20 (dua puluh) tahun; Rencana pengembangan sekolah Jangka Menengah (Rencana Strategis) adalah dokumen perencanaan sekolah untuk periode 4-5 (lima) tahun; Rencana pengembangan sekolah Tahunan adalah dokumen perencanaan sekolah untuk periode 1 (satu) tahun. Jenis Perencanaan Sekolah Tergantung dari kepentingannya, jenis perencanaan sekolah meliputi:
1. Pemerataan Kesempatan
Persamaan kesempatan Akses Keadilan atau kewajaran Contoh-contoh perencanaan pemerataan kesempatan misalnya: bea siswa untuk siswa miskin, peningkatan angka melanjutkan, pengurangan angka putus sekolah, pengurangan bias jender,

2. Peningkatan Kualitas/Mutu
Kualitas/mutu sekolah meliputi input, proses, dan output, dengan catatan bahwa output sangat ditentukan oleh proses, dan proses sangat dipengaruhi oleh tingkat kesiapan input. Perencanaan kualitas misalnya, peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan (guru, kepala sekolah, konselor, pustakawan, laboran), pengembangan komite sekolah, rasio (siswa/guru, siswa/kelas, siswa/ sekolah), pengembangan bahan ajar, pengembangan model pembelajaran (PAKEM, lessons study, pembelajaran dengan melakukan, pembelajaran kontekstual, pembelajaran kooperatif), pengembangan komite sekolah, peningkatan mutu lulusan (NUN, NUS, olimpiade mata pelajaran, karya ilmiah, karakter/ budipekerti, kesenian, keagamaan, olah raga, keterampilan kejuruan)
3. Peningkatan Efisiensi
Efisiensi merujuk pada hasil yang maksimal dengan biaya yang wajar. Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal merujuk kepada hubungan antara output sekolah (pencapaian prestasi belajar) dan input (sumberdaya) yang digunakan untuk memproses/ menghasilkan output sekolah. Efisiensi eksternal merujuk kepada hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan tamatan dan keuntungan kumulatif (individual, sosial, ekonomik dan non-ekonomik) yang didapat setelah kurun waktu yang panjang diluar sekolah. Perencanaan peningkatan efisiensi misalnya: peningkatan angka kelulusan, rasio keluaran/masukan, angka kenaikan kelas/transisi, penurunan angka mengulang, angka putus sekolah, dan peningkatan angka kehadiran.
4. Peningkatan Relevansi
Relevansi merujuk kepada kesesuaian hasil pendidikan dengan kebutuhan (needs), baik kebutuhan peserta didik, kebutuhan keluarga, dan kebutuhan pembangunan yang meliputi berbagai sektor dan sub-sektor. Perencanaan relevansi misalnya; program keterampilan/ kewirausahaan/usaha kecil bagi siswa-siswa yang tidak melanjutkan pendidikan, kurikulum muatan lokal, pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan keunggulan lokal dan global khususnya untuk mencari nafkah, dsb.

PRINSIP-PRINSIP PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH
Penyusunan rencana pengembangan sekolah menerapkan prinsip-prinsip: memperbaiki prestasi belajar siswa, membawa perubahan yang lebih baik (peningkatan/pengembangan), sistematis, terarah, terpadu (saling terkait dan sepadan), menyeluruh, tanggap terhadap perubahan, demand driven (berdasarkan kebutuhan), partisipasi, keterwakilan, transparansi, data driven, realistik sesuai dengan hasil analisis SWOT, dan mendasarkan pada hasil review dan evaluasi.
Rencana Pengembangan Pendidikan Nasional Keterkaitan Antara Jenjang Perencanaan Analisis Lingkungan, Strategis Situasi Pendidikan saat ini, Situasi Pendidikan yang diharapkan, Rencana Strategis (5 tahun), Rencana Operasional (1 tahun), Pelaksanaan Program Monitoring dan Evaluasi. Proses Penyusunan rencana pengembangan sekolah, Kesenjangan proses perencanaan strategis, Dimana kita sekarang ? Kemana kita akan pergi ? Bagaimana cara mencapai kesana? Apakah kita sampai disana? Analisis lingkungan eksternal, Analisis lingkungan internal, Profil Pendidikan: Pemerataan dan perluasan Mutu dan Relevans, Management dan governance, Isu-isu strategis pendidikan, Situasi pendidikan yang diharapkan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Kebijakan, dan Program Strategi pelaksanaan Formulasi, Strategi Pelaksanaan, Alokasi Sumberdaya Sarana/ Rekomendasi Evaluasi Pengumpulan dan Pemaparan Data Situasi pendidikan saat ini, Evaluasi dan Kontrol Tahap-tahap Penyusunan Rencana Pengembangan sekolah, Membuat profil sekolah saat ini (apa adanya) baik input, proses, maupun outputnya Memformulasikan profil sekolah yang diharapkan (idealnya) di masa depan, baik input, proses, maupun outputnya, Mencari selisih untuk menemukan tantangan nyata yang dihadapi, Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi, Menyusun rencana pelaksanaan Rencana Pengemangan Sekolah, Menyusun rencana pemantauan dan evaluasi, Rencana Strategis Sekolah, Situasi Sekolah (tahun ini), Situasi Sekolah (5 tahun ke depan), Strategi (5Tahun) Input Proses Output Input Proses output menuju Rencana Strategis Sekolah. Analisis situasi pendidikan sekolah saat ini, Analisis situasi pendidikan sekolah yang diharapkan 5 tahun kedepan (visi, misi, dan tujuan yang mencakup pemerataan mutu, relevansi, efisiensi, kapasitas), Kesenjangan antara situasi pendidikan sekolah saat ini dan yang diharapkan 5 tahun kedepan (tantangan nyata yang dihadapi 5 tahun kedepan), Kebijakan dan program-program strategis untuk mencapai situasi pendidikan sekolah yang diharapkan 5 tahun kedepan, Rencana strategi pelaksanaanTonggak-tonggak kunci keberhasilan (Milestone), Rencana biaya (besar, alokasi, dan sumber dana), Rencana pemantauan dan evaluasi, Rencana Tahunan Sekolah, Situasi Sekolah (tahun ini), Situasi Sekolah (tahun depan) Program (1Tahun) Input Proses Output Inpu Proses Output menuju Format Rencana Tahunan Sekolah (Alternatif I). Analisis situasi pendidikan sekolah tahun ini, Analisis situasi pendidikan sekolah tahun depan (yang diharapkan), Kesenjangan antara pendidikan sekolah tahun ini dan pendidikan tahun depan (tantangan), Program-program untuk mengurangi kesenjangan atau untuk menghadapi tantangan/loncatan Tonggak-tonggak kunci keberhasilan, Rencana biaya (besar dana, alokasi, sumber dana), Rencana pelaksanaan program, Rencana pemantauan dan evaluasi, Jadwal pelaksanaan program, Penanggungjawab program/kegiatan

FORMAT RENCANA TAHUNAN SEKOLAH (ALTERNATIF II: SWOT)
Analisis situasi pendidikan sekolah tahun ini, Analisis situasi pendidikan sekolah tahun depan (yang diharapkan), Kesenjangan antara situasi pendidikan sekolah tahun ini dan tahun depan (tantangan/loncatan), Tujuan tahunan/sasaran berdasarkan hasil kesenjangan/ tantangan, Urusan-urusan sekolah yang perlu dilibatkan untuk mencapai setiap sasaran dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya, Analisis SWOT (mengenali tingkat kesiapan masing-masing urusan sekolah melalui analisis SWOT), Langkah-langkah pemecahan persoalan, yaitu mengubah ketidaksiapan menjadi kesiapan urusan sekolah. Rencana dan program sekolah berdasarkan hasil langkah-langkah pemecahan persoalan Tonggak-tonggak kunci keberhasilan (milestones), Rencana biaya (besar, alokasi, dan sumber dana), Rencana pelaksanaan program, Rencana pemantauan dan evaluasi, Jadwal pelaksanaan program, Penanggungjawab program/kegiatan.

ANALISIS ‘SWOT’ KRITERIA PERENCANAAN PENDIDIKAN, KRITERIA RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH, DAN KRITERIA RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (LANJUTAN)

Tonggak-tonggak Kunci Keberhasilan Sekolah Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah terdiri dari unsur-unsur: Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Dewan Guru, Wali Kelas, Komite Sekolah, dan Masyarakat; Kelompok Kerja Rencan Pengembangan Sekolah dalam menyuarakan pemikirannya mendasarkan pada aspirasi konstituannya; dan harus jelas pembagian tugas dan fungsi masing-masing unsur dan interaksinya satu sama lain. Anggota (Unsur Komite Sekolah) Anggota (Unsur Wali Murid) Anggota (Unsur Masyarakat) Anggota (Unsur Kepala Sekolah) Anggota (Unsur Guru) Kelompok Kerja Rencana Pengembangan Sekolah, Perbaikan Secara Terus Menerus Rencana Pengembangan Sekolah, Implementasi Evaluasi, Refleksi, Revisi, dan tindak lanjut.

Kondisi kehidupan manusia di era globalisasi tak dapat dihindari, tetapi perlu dijalani dan mengantisipasi dengan cara-cara yang tepat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat, persaingan yang sangat ketat dan cepatnya arus informasi mendorong manusia mencari cara-cara yang efektif untuk menghadapi globalisasi agar tetap eksis dalam persaingan.

Menghadapi globalisasi dalam pendidikan harus berorientasi pada kondisi dan tuntutan, maka input, proses, output dan outcome pendidikan harus mengikuti perkembangan dan tuntutan perubahan. Manajemen pendidikan yang semula bersifat birokrasi sentralistik telah bergeser ke era desentralisasi dan telah menghasilkan pola penyelenggaraan pendidikan yang beragam dalam berbagai kondisi lokal yang berbeda untuk semua lapisan masyarakat.

Era otonomi desentralisasi pendidikan memungkinkan daerah / sekolah mempunyai variasi pilihan dalam pelayanan pendidikan bagi peserta didiknya di dunia nyata dan unggulan daerah dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pembangunan nasional dan daerah dan diyakini mampu meningkatkan kemampuan dan keterampilan peserta didik dalam berbuat serta daya saing yang tinggi. Pembinaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan bukan hanya penjenjalan pengetahuan, tetapi yang lebih penting adalah berorientasi pada peningkatan kemampuan dan keterampilan, sehingga output (keluaran) mampu malaksanakan tuntutan tugas dan fungsinya dengan baik.

3 komentar:

  1. Alhamdulillah...... terima kasih Pak Hamzah, akhirnya saya bisa mengerjakan tugas individu kuliah saya. Semoga Bapak selalu dalam hidayah Allah dan terus berkarya mencerdaskan bangsa kita (Indonesia). amin... ya rabbal alamin...

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah,, terima kasih Ya Allah. terima kasih Pak Hamzah. dan akhirnya kami bisa mengerjakan tugas kelompok kami. semoga berkah Pak,, mohon Ridho nya :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus